Sorak Semut di Rerumputan
Pada suatu hari,
Mereka para penguasa di dalam istana hijau.Para babi berjoget ria, bermandikan lumpur.
Monyet-monyet pun ikut riang bernyanyi,
karena mendapatkan upah yang digendutkan dari perasan kerja air keringat rakyatnya.
Di singgasananya,
singa hanya duduk bengong, melihat apa yang terjadi di CCTV sampai tak bisa mengaum.
Harimau pun hanya ikut-ikutan tersenyum, karena taringnya sudah menumpul.
singa hanya duduk bengong, melihat apa yang terjadi di CCTV sampai tak bisa mengaum.
Harimau pun hanya ikut-ikutan tersenyum, karena taringnya sudah menumpul.
Di luar istana,
langitnya hitam, tetapi sungguh panas mendidih.
Tanah semut penuh dengan banjir keputusasaan, dan terbakar oleh ketakutan,
hingga kemarahan mereka yang mungkin akan meledak bagai air bah di kemudian hari.
Para semut bersorak di atas rerumputan.
Tubuh kecil kami telah terinjak.
Jerit suara kami tak didengar, diabaikan.
Tapi jangan permainkan kehidupan kami,
karena seribu kami, sebesar gajah pun, kan tumbang.”
Dalam hati kecil kami masih ada cinta dan harapan.
Melebur, tumbuh, dan mengalir
dalam damai semesta.
karena seribu kami, sebesar gajah pun, kan tumbang.”
Dalam hati kecil kami masih ada cinta dan harapan.
Melebur, tumbuh, dan mengalir
dalam damai semesta.
Comments
Post a Comment